66 Tahun PSI

66 Tahun PSI

HARI ini (Rabu,12 Februari 2014) bertepatan dengan 66 tahun Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Sejak th 1960, perjuangan sosialisme kerakyatan tidak dilakukan secara meluas oleh PSI, karena pembubaran yg ditetapkan dengan keputusan Presiden Soekarno (waktu itu). Meski secara resmi PSI tidak pernah bubar, karena partai hanya bubar berdasarkan keputusan Kongres yang menyatakan demikian.

Sejak 2006 diupayakan pengaktifan kembali PSI. Di zaman yang tidak mudah ini tantangan yang dihadapi PSI ini sangatlah berat, karena sistem pemerintahan dan kenegaraan kita dibangun sedemikian rupa sehingga memunculkan proses transaksional.

Kita harus meneguhkan komitmen kita sebagai partai yang mengutamakan pendidikan politik rakyat sehingga menjadi bagian yang memperkokoh harkat dan martabat Bangsa merdeka. Kita bangun kepedulian akan sesamanya meski bukan merupakan bagian dari korban sekalipun. Inti sosialisme kerakyatan ialah kemanusiaan, solidaritas kemanusian, merdeka dan bebas dari rasa ketakutan.

Sosialisme itu pilihan hidup, keberpihakan kita pada yang lemah dan yang benar, satunya kata dan perbuatan, amanah atau bertanggungjawab secara sosial, konsekwen, konsisten dan respek terhadap sesamanya.

PSI yg kita aktifkan ini difungsikan dan memiliki pola perjuangan seperti halnya PNI Pendidikan di tahun 1930-an, yakni membangun kesadaran rakyat atas harkat dan martabat kemanusiaannya, melakukan pendidikan politik agar peduli atas perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara serta melakukan pemberdayaan ekonomi agar bisa mandiri dan bermartabat.

Kita, dihadapkan pada pilihan seperti zaman pra-kemerdekaan, akan hidup di zona nyaman - bagi sebagian orang, meskipun dalam tatanan yang tak berkeadilan, atau bangun dan berusaha mengubah keadaan kearah perbaikan? Kita harus membangun kesadaran rakyat untuk mendesakkan dilakukannya restorasi terhadap hasil amandemen UUD 1945, tidak membiarkan kapitalisme dan neoliberalisme tumbuh subur di negeri ini. Membangun kehidupan demokrasi yang substansial, bukan prosedural.

Kita juga tidak cukup hanya hidup menjadi orang baik orang seorang, tapi harus peduli dengan kehidupan politik negeri ini. Kita harus lakukan 'amar ma’ruf nahi munkar'.

Musuh bagi kita: kaum sosialis, adalah Kebodohan dan Kemiskinan.
Perjuangan kita : kaum sosialis, adalah perjuangan yang mengutamakan kemanusiaan dan harkat martabat Bangsa merdeka.
Tugas kita : kaum sosialis, adalah untuk menjaga Bangsa kita tetap berdaulat secara politik dan ekonomi.

Salam Kerakyatan!
Jakarta, 12 Februari 2014

Agustanzil Sjahroezah
Ketua Umum
Partai Sosialis Indonesia

client = pub-8421803796170682
slot = 8723977807
width = 468
height = 60