66 Tahun PSI

HARI ini (Rabu,12 Februari 2014) bertepatan dengan 66 tahun Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Sejak th 1960, perjuangan sosialisme kerakyatan tidak dilakukan secara meluas oleh PSI, karena pembubaran yg ditetapkan dengan keputusan Presiden Soekarno (waktu itu). Meski secara resmi PSI tidak pernah bubar, karena partai hanya bubar berdasarkan keputusan Kongres yang menyatakan demikian.

Sejak 2006 diupayakan pengaktifan kembali PSI. Di zaman yang tidak mudah ini tantangan yang dihadapi PSI ini sangatlah berat, karena sistem pemerintahan dan kenegaraan kita dibangun sedemikian rupa sehingga memunculkan proses transaksional.

Kita harus meneguhkan komitmen kita sebagai partai yang mengutamakan pendidikan politik rakyat sehingga menjadi bagian yang memperkokoh harkat dan martabat Bangsa merdeka. Kita bangun kepedulian akan sesamanya meski bukan merupakan bagian dari korban sekalipun. Inti sosialisme kerakyatan ialah kemanusiaan, solidaritas kemanusian, merdeka dan bebas dari rasa ketakutan.

Sosialisme itu pilihan hidup, keberpihakan kita pada yang lemah dan yang benar, satunya kata dan perbuatan, amanah atau bertanggungjawab secara sosial, konsekwen, konsisten dan respek terhadap sesamanya.

Kader Hingga Ujung Usia

(Artikel ini pernah dimuat di majalah Tempo)

PINTU rumah itu selalu terbuka. Setiap hari ada saja tamu yang datang, kebanyakan petani. Apih Safari, 76 tahun, pemilik rumah di belakang Pasar Hewan, Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat itu setia mendengarkan keluhan mereka. Ketika Tempo berkunjung ke sana dua pekan lalu, lima petani sedang mengadukan sengketa lahan garapan mereka.

Di Sumedang, Apih dikenal sebagai orang tua yang memperjuangkan nasib buruh tani. Ia menjadikan rumahnya markas buat petani yang mendapat perlakuan tak adil. Pensiunan guru bahasa Inggris ini mendirikan Forum Kerakyatan Indonesia serta Serikat Tani Kerakyatan Sumedang, 17 tahun lalu. Perhatian Apih terhadap kaum kecil muncul ketika remaja. Ketika itu ia banyak bergaul dengan aktivis senior seperti Omo Darmawiredja, ketua cabang Partai Sosialis Indonesia Sumedang. Ia juga berinteraksi dengan Roesni Tjoetjoen, teman sekelas Sjahrir di Algemene Middelbare School-setingkat sekolah menengah atas-di Bandung.
Apih berasal dari keluarga pegawai kereta api yang menyekolahkannya hingga menengah atas. Ia menikah dengan Ana Karmini, anak buruh tani di Sumedang, pada 1952.

Buku Djohan Sjahroezah, Merajut Jejaring Perjuangan

Lahirnya Nasionalisme

Sampai dengan saat ini, arus besar perspektif sejarah mengenai terbentuknya nasionalisme di Indonesia, umumnya di dasari atau mengacu kepada pemahaman sejarah pertumbuhan nasionalisme negara-bangsa di Barat. Keunikan proses historis yang berlangsung di Indonesia belum mendapat porsi fokus yang cukup, dan nasionalisme yang terlihat pada era seputar Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 dianggap sebagai suatu kewajaran proses dalam sejarah. Faktanya, proklamator kemerdekaan kita, Bung Karno dan Bung Hatta merasakan keraguan besar ketika diminta mendeklarasikan terbentuknya Republik Indonesia. Mereka meragukan dukungan tujuh puluh juta lebih rakyat Nusantara pada saat itu, terhadap ide kemerdekaan sebagai Republik Indonesia, dan meragukan legitimasi proklamasi yang akan dilakukan.

Kesabaran Revolusioner - Djoeir Moehamad

Djohan Sjahroezah: Suatu “Kesabaran Revolusioner” *

Pada tanggal 2 Agustus 1968, Djohan Sjahroezah meninggal dunia dalam usia 56 tahun setelah cukup lama menderita sakit. Pada upacara pemakamannya Menteri Luar Negeri Adam Malik antara lain berkata: “walaupun di masyarakat luas nama Djohan Sjahroezah tidak begitu dikenal, tetapi di antara kita semua yang turut berjuang menentang penjajahan, dan yang mengerjakan suatu Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dan yang mencita-citakan suatu masyarakat yang adil dan makmur, nama Djohan Sjahroezah mempunyai arti yang besar.” Bahwa “Djohan tidak saja merupakan pendorong (dari) gerakan illegal yang dilakukan oleh kawan-kawan dari Pendidikan Nasional Indonesia saja, namun ia merupakan pula salah seorang daripada hampir semua yang illegal yang dilakukan pada waktu dan terhadap pemerintah penjajahan, termasuk gerakan illegal yang dipimpin dari luar negeri oleh almarhum Tan Malaka.”

Peringatan Hari Lahir Partai Sosialis Indonesia

Pada tanggal 12 Februari 2011 bertempat di Jakarta telah diadakan Peringatan Hari Lahir Partai Sosialis Indonesia. Sebagaimana diketahui PSI lahir pada tanggal 12 Februari 1948 dan di non-aktifkan pada Agustus 1960, oleh pemerintah. Tapi penguasapun tidak punya kemampuan untuk membubarkan PSI, karena PSI adalah suatu jiwa bermasyarakat dan bernegara, bukan suatu bagian dari struktur kekuasaan. Mungkin badan hukumnya bisa berangus, tapi jiwanya hidup terus.. Sekarang jiwa tersebut sudah kembali menemukan tubuh partainya. Kini PSI telah muncul kembali. Dalam kesempatan ini, telah diadakan Panel Diskusi dengan pembicara Rosihan Anwar, Adnan Bujung Nasution dan Rushdy Hoesein. Bertindak sebagai moderator adalah tuan rumah pemimpin Umum Partai, Agustanzil Sjahroezah. Tamu yang cukup banyak memadati acara berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Acara berlangsung sederhana namun hikmat. Hadirin adalah anggota PSI atau simpatisannya yang berdatangan dari berbagai tempat seperti Sumbar, Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Kaltim, Sulteng, Sulut, Maluku dan lain-lain.

Boemi Poetera

Komite Bumi Putera atau Comite Boemi Poetera berdiri pada 1913 dalam rangka menyambut peringatan seratus tahun pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Komite ini lengkapnya bernama Inlandsche Comite tot Herdenking van Nederlands Honderjarige Vrijheid (Komite Bumiputera untuk Peringatan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda). Di kalangan kaum pergerakan dikenal dengan nama Comite Boemi Poetera.
Comite Boemi Poetera merupakan organisasi yang dibentuk setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij.

Tokoh

Para pemimpinnya ialah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (ketua), Soejatiman (Soetatmo) Soeriokoesoemo (wakil ketua), Soewardi Soerjaningrat (sekretaris), dan Wignjadisastra (bendahara). Melihat komposisi para pengurusnya, mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka baik di mata rakyat maupun pemerintah kolonial.
Tjipto misalnya sebagaimana diketahui adalah lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen dan seorang anggota terkemuka dari Boedi Oetomo. Namun pada 1909, setahun setelah Boedi Oetomo terbentuk, Tjipto keluar karena perbedaan pandangannya dengan kaum tua di organisasi tersebut yang tidak mengakomodasi pikiran-pikiran kaum muda. Bersama Soewardi dan Douwes Dekker, ketiganya kemudian membentuk Indische Partij (IP) pada 25 Desember 1912 di Bandung.

Indische Partij

Pada saat menginjak abad 20 ,sistem kolonial di Indonesia banyak sekali mengalami perkembangan baik di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Hal ini juga secara langsung mempengaruhi bangsa Indonesia. Sejak adanya politik etis pada awal tahun 1900 yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer, banyak sekali lahir golongan elit terpelajar di Indonesia. Politik etis merupakan bentuk politik balas budi pemerintah Belanda terhadap bangsa Indonesia yang telah dipolitisasi. Berkat politik etis, bangsa Indonesia dapat memperoleh pendidikan / edukasi sehingga dicapai kesadaran emansipasif bangsa.Karena banyaknya kaum terpelajar yang ada ,maka seiring waktu lahirlah organisasi-organisasi yang bergerak di berbagai bidang, baik politik maupun bidang lainnya yang mengarah kepada kemerdekaan negara Indonesia.

Perdjoeangan Kita - Sutan Sjahrir

Keadaan setelah dua bulan berdirinya Republik Indonesia dapat kita gambarkan sebagai berikut. Harapan dan keinginan untuk turut serta akan dapat mempertahankan kemerdekaan kita, umum ada pada segala lapisan bangsa kita. Belum pernah ditahun-tahun yang lalu gerakan kemerdekaan memuncak seperti sekarang. Terutama pada pemuda tampak, bahwa segenap jiwanya dipasangkan pada perjuangan kemerdekaan kita. Akan tetapi lambat laun rakyat banyak didesa dan dikota yang memperhebat perjuangan kita.